[20:39]
Tahun 2021, membunuh angka satunya dan menggantikannya dengan angka dua, ataupun menambahkan angka satunya dengan angka satu lainnya, siapa yang tau?. Yang jelas adalah, nona... ini adalah penghujung jalanku. Ke-tujuh belas seri dari tulisan disini, didedikasikan untukmu, nona.
"Penghambaan", "Ruang Kosong", "Aku dan Engkau, apakah bisa menjadi Kita", "Percakapan", "Alasan", "Angin, Semesta, dan Samudera", "Mimpi yang sama", "Hilang", "Hilang dan Lupakan", "Storming and Coffe", "November", "Benar - Benar Hilang", "Mencari sebuah Jalan", "Napak sebuah Perjalan"
—dan mungkin, ini tulisan penghujung untuk menuntaskan dedikasi ku terhadapmu, nona. Memang dewasa kini, urusan kita sudah tuntas, lunas. Maka tulisan yang ku dedikasikan ini pun harus ku tuntaskan.
Nona, apakah nona tau, apalagi yang kucintai selain diri nona?, adalah tanggal dua di bulan Januari. Tanggal dua Januari adalah tanggal yang sakral, kenapa?, karena tanggal itu adalah tanggal penentu.
Ada sebuah prinsip yang ku kutip dari pemikiran Nietzche, orang yang waktu itu berkata tentang "Tuhan telah mati". Kutipan yang ku ambil dari Nietzche adalah "Fatum Brutum Amor Fati", cintailah takdir walaupun takdir itu menyakitkan.
Garis takdir yang mempertemukan kita selama ini, harus terpisah juga dengan brutalnya takdir, dan seperti yang kita tau, takdir adalah hal yang diluar jangkauan kita, nona. Takdir layaknya bom waktu, tunggu saja detik dia meledak. Sialnya adalah, bom waktu yang bernama "Takdir" itu, ditimpa dengan bom waktu yang ku persiapakan sendiri, yaitu mencintaimu. Mencintaimu adalah sebuah bom waktu, apalagi kalau bukan karena aku yang mencintaimu sendirian?. Tanggal dua di bulan Januari, itulah esensi dari bom waktu. Hari ini, ku putuskan untuk merangakai kembali serpihan itu, menjadi sebuah cangkir kosong yang pernah retak. Setidaknya itulah yang ku punya, seperti apa yang filosofi kintsugi jabarkan.
Tanggal dua dibulan Januari, sangat melekat diingatanku, itu adalah sebuah hal yang ambivalen, hal yang ku cintai dan juga ku benci. Cinta pertamaku datang pada tanggal dua Januari, dan bom waktuku meledak di tanggal dua Januari. Aku masih mengingatnya, satu jam dan empat puluh lima menit suara itu terus menusukku dengan ekspektasi yang jauh dari bayanganku. Biarlah, biarkan itu menjadi hukuman untuk-ku, hukuman dari takdir itu sendiri, karena sudah mempermainkan bom waktu itu sendiri. Nona, apakah bisa kita mengulang waktu?, setidaknya janganlah pernah untuk menemuiku, sekalipun. Dua bulan lamanya ke-rapuhan jiwa ini bisa pulih, itu pun ditambah bantuan ahli. Sumpahku, tidak pernah selama ini ku mencintai seorang wanita sampai separah ini, entah kenapa dirimu berbeda nona.
Nona, dalam penghujung jalan, tentunya akan datang sebuah perasaan yang aneh, apapun itu, tidak bisa di-deskripsikan. Tapi penghujung jalan ini, hanya aku yang mengakhirinya, karena selama ini, aku mencintaimu dengan sepihak. Bayangkan, selama ini aku mencintai seorang hamba dengan setengah hati, karena tidak akan pernah mencapai sepenuh hati. Nona, dalam penghujung jalan tentang tulisanmu ini, aku mohon, berubahlah. Sudah cukup, cukuplah hanya aku yang merasakan kesejukan fana yang kau berikan itu. Bahkan untuk dianggap sebagai orang terdekat nona pun, tidak. Nona, engkau brengsek. Bagaimana bisa engkau mempermainkan perasaan seorang hamba seperti itu?. Nona, engkau brengsek, bagaimana seorang makhluk perasa yang bernama perempuan, tidak tahu, bahkan tidak peka akan hal itu?. Apapun alasannya, sudah cukup.
Tapi, sudahlah berlalu. Apapun itu, sudah tertinggal dibelakang sana. Jawaban nona saat itu sudah cukup untukku. Bahkan aku sudah tidak mau berkata banyak lagi tentang hal itu. Yang berlalu biarlah tersapu masa. Nona pun sudah tidak lagi peduli dengan ini, bukan?. Memang itu pilihan yang tepat. Pergi sajalah sekalian. Jangan mempermainkan perasaan seorang hamba seperti itu. Nona, ku tau nona tidak sebodoh itu, apa susahnya bicara terus terang. Berhentilah dan buang topeng itu, nona, dengan sangat ku memohon. Memang aku masuk terlalu jauh, kedalam kisah dongeng yang tak mungkin terjadi.
Memang sekali lagi, semua itu hanya angan yang ku simulasikan dalam bayanganku, tidak ku sangka bahwa semua itu terlalu jauh dari kata fakta yang ada padamu. Padahal sangat ku-yakini bahwa itu adalah kode alam yang ku dapat. Tapi ya sudahlah, mau diapakan lagi. Biarlah tulisan dalam blog ini menjadi saksi bisu, KEBODOHAN terbesarku, biarlah semua ini menjadi saksi bisu itu.
Di penghujung jalan ini, setelah banyak kontemplasi diri ini dapatkan. Maka ku putuskan untuk menuntaskan tulisan ini, tulisan untukmu ini, nona. Masih banyak tulisan lain yang akan ku tulis, tapi tulisan untukmu, dengan berat hati, harus ku tuntaskan, hanya sampai disini. Semoga nona tetap berjalan, aku pun akan tetap berjalan, maju, tanpa melihat kebelakang lagi. Ku cukupkan tulisan ini, nona..
Salam hangat dariku, nona...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar