Kamis, 02 Desember 2021

Napak Sebuah Perjalanan




[00:57]

Napak... merupakan sebuah arti, bahwa sebuah tapak adalah esensi dari sebuah perjalanan. Tiap perjalanan, adalah eksistensi bahwa individu mencari sebuah esensi dalam tapaknya. Begitupun harfiahnya, nona, aku menapak dalam perjalanan. Memang harusnya tapak tentang nona berhenti disini, karena kita tidak akan pernah menjadi "kita" dalam arti yang sebenarnya. 


Dalam tapak perjalananku, kontemplasi diri tak hentinya mencari sebuah jawaban. Menurut para orang bijak, memang layaknya perjalanan adalah sarana kontemplasi untuk merenungkan... entah jawaban, kesalahan, ataupun tindakan. Dan memang harus ku akui, definisi penghambaan, hilang, ataupun kita, adalah kesalahan tanpa adanya siapa yang salah. Nona... engkau salah, apalagi kalau bukan memberiku serpihan harapan dan kehangatan itu?, aku pun salah, tidak segera merangkai serpihan itu dan memperbesar apinya. Tidak ada yang harus disalahkan nona, memang kita adalah kesalahan. 


Napak... sekali lagi adalah esensi dari perjalanan itu sendiri, dalam tapak yang berjalan, kita adalah tapak yang ada dibelakang. Andai kata aku harus mundur, tidak ada cara untuk kembali kepada kita yang sama. Ego ku ingin mencoba berjalan mundur, maka berapa tapak langkah yang harus ku lalui untuk sampai ke tapak kita dahulu?, sembari berjalan mundur. Ataupun aku memutar balik untuk mencari tapak tersebut, nyatanya aku hanya membuat tapak baru yang berjalan maju ke masa yang mundur?. Tidak ada cara yang bisa ku lakukan untuk kembali ke masa tersebut.  Dengan terpaksa aku harus berjalan terus, menapaki tapak-tapak yang baru, dan tentunya nona, kita adalah tapak yang sangat jauh dibelakang.


Nona... apalagi dalam tapak tilas tersebut, aku pun tidak tahu apakah itu adalah kita yang memang realitanya?, atau kita yang aku ekspektasikan?. Sekali lagi, nona... tapak tidak akan bisa dihapus, dimanapun. Secara fisik, bisa saja itu tersapu masa, hujan, ataupun kemajemukkan lainnya, tapi dalam ingatan, tapak akan selalu ada disana. 



Nona... maafkan aku harus mengatakan ini, tapi aku memang menyayangimu, dan sayangnya, itu ada di tapak kita dibelakang sana, jauh di dalam masa. Karena hakikatnya, nona... yang fana adalah waktu, kita abadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages